Rabu, 26 September 2007

konfirmasi

pada harie Raboe tanggal doea poeloeh enam boelan sembielan tahoen doea riboe toejoeh...

poekoel sepoeloeh pagi menelepon BPOM kembali untuk mengkonfirm soerat soervei kamie yang telah mereka terima...

kami menekan tombol 4245139 (berbicara dengan ibu Satira)...

"halo... dengan BPOM, ada yang bisa kamie bantu..."

"halo... selamat pagie bu.Satira :) ini dari mahasiswa Untar... ingin menanyakan mengenai soerat soervei yang telah dikirim kembalie waktoe itoe..."

"ow... UnTar, maksudnya dari Universitas Tarumanagara ya...?"

"benar bu ^^ dari Tarumangara... kamie hanya ingin mengkonfirm kembali kepoetoesan BPOM, apakah kamie dapat soervei kesana dan mendapatkan data-data yang ingin kami cari?"

"wah saya kurang gitu tau de... soerat nya sudah lama yah dikirimnya? kapan?"

"wah soedah dari enam harie yang laloe bu... T_T lama sekalie diprosesnya..."

"saya juga koerang gitu taoe de, coba toengoe sebentar yach de..."
"coba ade telpon ke operator saja 4244691, nanti minta tolong sambungkan ke bagian pengembangan pegawai dengan ibu Tias..."

"baik bu, trimakasieh :) buat informasinya"

pencet tombol lagie ah ke bagian operator... laloe tekan tombol 0 (untuk bantuan operator...)
setelah disamboengkan ke ibu Tias...

"halo, dengan siapa ini?"

"ini dari mahasiswa UnTar bu..."

"ow iya... saya tahoe... sudah saya terima soeratnya... memang banyak dari mahasiswa UnTar yang ingin soervei dari kemarin, tapi masih beloem tahu kepoetoesan dari bagian atas..."

"wah bagaimana yah bu, saya sangat memerloekan data-data terseboet... kira-kira kapan soerat terseboet selesai diprosesnya yach bu? bukanya hanya 3 hari lamanya proses soerat, menoeroet informasi yang saya dapat..."

"kamie sedang siboek mengoerosie bahan-bahan yang menggoenakan formalin..."
"dan sebetoelnya tidak semoea peroesahaan mengizinkan data-data nya diberitahoe kepada umum"

"mmm... gimana yach de, kalau tidak gini sajah dech, biar saya catat nomor ade, soepaya saya dapat beritahoe kepoetoesannya nanti lewat telpon, nanti saya telpon ke nomor ade sajah..."

"oh gitoe yach bu... yasoedah... ini nomor saya 081XXXXXXXX...."
"terimakasih bu..."

"iya... marie..."

(moengkinkah BPOM menelepon???) sepertinya sangat moestahil... mereka menelepon...
kita toenggoe sajah kabarnya :) sapa tahoe benar-benar menelepon...


Tokoh Wayang

Sumber : Wikipidea Indonesia

tokoh-tokoh wayang

CAKIL

Cakil, merupakan seorang raksasa dengan rahang bawah yang lebih panjang daripada rahang atas. Tokoh ini merupakan inovasi Jawa dan tidak dapat ditemui di India.

Dalam sebuah pertunjukan wayang, Cakil selalu berhadapan dengan Arjuna ataupun tokoh satria yang baru turun gunung dalam adegan Perang Kembang. Tokoh ini hanya merupakan tokoh humoristis saja yang tidak serius namun sebenarnya Cakil adalah melambangkan tokoh yang pantang menyerah dan selalu berjuang hingga titik darah penghabisan karena dalam perang kembang tersebut cakil selalu tewas karena kerisnya sendiri.

DAWALA

Dawala adalah punakawan yang digambarkan memiliki hidung mancung, muka bersih, sabar, setia, dan penurut. tetapi kurang cerdas dan kurang begitu trampil. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tokoh ini di kenal dengan nama Petruk. Biasanya dikeluarkan bareng dengan Astrajinga alias Cepot dan Semar sebagai teman humor pada lakon goro goro atau lakon humor dalam pagelaran wayang.

GARENG

Gareng

Nama lengkap dari Gareng sebenarnya adalah Nala Gareng , hanya saja masyrakat sekarang lebih akrab dengan sebutan “Gareng”.

Gareng adalah purnakawan yang berkaki pincang. Hal ini merupakan sebuah sanepa dari sifat Gareng sebagai kawula yang selalu hati-hati dalam melangkahkan kaki. Selain itu, cacat fisik Gareng yang lain adalah tangan yang ciker atau patah. Ini adalah sanepa bahwa Gareng memiliki sifat tidak suka mengambil hak milik orang lain. Diceritakan bahwa tumit kanannya terkena semacam penyakit bubul.

Gareng adalah anak sulung dari Semar. Dalam suatu carangan Gareng pernah menjadi raja di Paranggumiwayang dengan gelar Pandu Pragola. Saat itu dia berhasil mengalahkan prabu Welgeduwelbeh raja dari Borneo yang tidak lain adalah penjelmaan dari saudaranya sendiri yaitu Petruk.

Dulunya , Gareng berujud ksatria tampan bernama Bambang Sukodadi dari pedepokan Bluktiba. Suatu hari , saat baru saja menyelesaikan tapanya , ia berjumpa dengan ksatria lain bernama Bambang panyukilan. Karena suatu kesalah pahaman , mereka malah berkelahi. Dari hasil perkelahian itu, tidak ada yang menang dan kalah, bahkan wajah mereka berdua rusak. Kemudian datanglah Batara Ismaya (Semar) yang kemudian melerai mereka. Karena Batara Ismaya ini adalah pamong para ksatria Pandawa yang berjalan di atas kebenaran , maka dalam bentuk Jangganan Samara Anta , dia (Ismaya) memberi nasihat kepada kedua ksatria yang baru saja berkelahi itu.

Karena kagum oleh nasihat Batara Ismaya, kedua ksatria itu minta mengabdi dan minta diaku anak oleh Lurah Karang Dempel , titisan dewa (Batara Ismaya) itu. Akhirnya Jangganan Samara Anta bersedia menerima mereka , asal kedua ksatria itu mau menemani dia menjadi pamong para ksatria berbudi luhur (Pandawa), dan akhirnya mereka berdua setuju.

PETRUK

Petruk adalah punakawan yang tinggi dan berhidung panjang. Dalam suatu kisah berjudul Petruk Menjadi Raja, dia memakai nama Prabu Kantong Bolong Bleh Geduweh. Menurut versi Sunda, Petruk ini bernama Dawala.

WAYANG KULIT

Lima bersaudara Pandawa dalam wayang kulit Jawa

Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia, yang terutama berkembang di Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang(lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.

Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga ( Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity ). Wayang kulit lebih populer di Jawa bagian tengah dan timur, sedangkan wayang golek lebih sering dimainkan di Jawa Barat.

WAYANG BEBER

Wayang Beber adalah seni wayang yang muncul dan berkembang di Jawa pada masa pra Islam dan masih berkembang di daerah daerah tertentu di Pulau Jawa. Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh tokoh dalam cerita wayang baik Mahabharata maupun Ramayana.

Konon oleh para Wali di antaranya adalah Sunan Kalijaga wayang beber ini dimodifikasi bentuk menjadi Wayang Kulit dengan bentuk bentuk yang bersifat ornamentik yang dikenal sekarang, karena ajaran Islam mengharamkan bentuk gambar makhluk hidup (manusia, hewan) maupun patung serta diberi tokoh tokoh tambahan yang tidak ada pada wayang babon (wayang dengan tokoh asli India) diantaranya adalah Semar dan anak-anaknya serta Pusaka Hyang Kalimusada. Wayang hasil modifikasi para wali inilah yang digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam dan yang kita kenal sekarang. Perlu diketahui juga bahwa Wayang Beber pertama dan masih asli sampai sekarang masih bisa dilihat. Wayang Beber yang asli ini bisa dilihat di Daerah Pacitan, Donorojo, wayang ini dipegang oleh seseorang yang secara turun-temurun dipercaya memeliharanya dan tidak akan dipegang oleh orang dari keturunan yang berbeda karena mereka percaya bahwa itu sebuah amanat luhur yang harus dipelihara.

TOGOG

Togog adalah putra dewa yang lahir sebelum semar tapi karena tidak mampu mengayomi bumi maka togog kembali keasal lagi alias tidak jadi lahir dan waktu bersamaan lahirlah semar.

Pada jaman kadewatan diceritakan Sanghyang Wenang mengadakan sayembara untuk memilih penguasa kahyangan dari ketiga cucunya yaitu Bathara Antaga (togog), Bathara Ismayasemar) dan Bathara Manikmaya (Bathara Guru), untuk itu sayembara didakan dengan cara barang siapa saja dari ketiga cucunya tersebut dapat menelan bulat2 dan memuntahkan kembali gunung jamurdipa maka dialah yang akan terpilih menjadi penguasa kahyangan. pada giliran pertama bathara antaga (togog) mencoba untuk melakukannya,namun yang terjadi malah mulutnya robek dan jadi dower seperti yang bisa kita lihat pada karakter togog sekarang, giliran berikutnya adalah bathara ismaya (semar) yang melakukannya, gunung jamurdipa dapat ditelan bulat-bulat tetapi tidak dapat dikeluarkan lagi, dan jadilah semar berperut buncit karena ada gunung didalamnya seperti dapat kita lihat pada karakter semar dalam wayang kulit. Karena sarana sayembara sudah musnah ditelan semar maka yang berhak memenangkan sayembara dan diangkat menjadi penguasa kadewatan adalah Sang Hyang Manikmaya atau Bathara Guru, cucu bungsu dari Sang Hyang Wenang. (

Adapun Bathara Antaga (togog) dan Bathara Ismaya (semar) akhirnya diutus turun ke marcapada (dunia manusia) untuk menjadi penasihat, dan pamong pembisik makna sejati kehidupan dan kebajikan pada manusia, yang pada akhirnya semar dipilih sebagai pamong untuk para ksatria berwatak baik (pandawa)dan togog diutus sebagai pamong untuk para ksatria dengan watak buruk.

BILUNG

Bilung adalah seorang raksasa kecil yang berteman dengan para punakawan, dia adalah sahabat dari Togog dan kemana mana selalu berdua. Bilung digambarkan sebagai tokoh dari luar jawa yaitu melayu. Bilung sering kali menggunakan bahasa campuran jawa & melayu. Setiap bertemu dengan Petruk selalu menantang berkelahi & mengeluarkan suara kukuruyuk seperti ayam jago. Tapi sekali dipukul oleh petruk dia langsung kalah & menangis.dalam beberapa cerita wayang, bilung yang punya nama lain Tokun ini terkadang Bilung berperan menjadi Punakawan yang memihak musuh. biasanya Bilung akan memberi masukan yang baik kepada majikannya . tetapi bila masukannya tidak didengarkan oleh majikannya , dia akan berbalik memberi berbagai masukan yang buruk.

BAGONG

Bagong adalah nama salah satu tokoh punakawan dalam cerita wayang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam cerita wayang dari Jawa Barat ia bernama Cepot atau nama yang lebih lengkapnya yaitu Astrajingga.

Bagong adalah anak ketiga dari Semar dengan ibunya Sutiragen. Dengan bersenjatakan golok, Bagong, pekerjaannya adalah selalu membuat humor, tidak peduli kepada siapa pun, baik ksatria, raja maupun Para Dewa. Meskipun demikian lewat humor humornya dia memberikan nasehat, petuah dan kritik.

Lakonnya biasanya dikeluarkan oleh dalang di tengah kisah, selalu menemani para ksatria dan digunakan dalang untuk menyampaikan pesan pesan bebas bagi pemirsa dan penonton, baik itu nasihat, kritik maupun petuah dan sindiran yang tentu saja disampaikan secara humor.

Dalam perang, Bagong biasanya ikut perang dengan membawa golok. Lawan utamanya adalah para raksasa-raksasa yang selalu menjadi mangsa goloknya. Namun, Bagong sering merasa kewalahan kalau melawan para ksatria lawan tersebut.

CANGIK

Cangik adalah seorang pelayan wanita pelawak kesayangan para penonton biasanya mengiringi kehadiran Sumbadra atau putri kelas atas lainnya. Meskipun perawakannya kurus, dadanya mengerut, dan penampilannya aneh, dia sangat mudah tersipu-sipu dan genit, dengan sisir yang selalu ia bawa sebagai buktinya. Suaranya tinggi, melengking dan seperti bersiul, karena dia tidak mempunyai gigi.

LIMBUK

Limbuk adalah anak perempuan Cangik, juga seorang abdi perempuan yang konyol. Meskipun penampilannya sangat berbeda dengan ibunya, dia mempunyai rasa keyakinan yang sama akan daya tariknya yang tinggi. Dia juga membawa sebuah sisir dengannya ke mana-mana. Suaranya keras, rendah, dan menyentuh secara janggal.

WAYANG CALONARANG

Wayang Calonarang juga sering disebut sebagai Wayang Leyak, adalah salah satu jenis wayang kulit Bali yang dianggap angker karena dalam pertunjukannya banyak mengungkapkan nilai-nilai magis dan rahasia pangiwa dan panengen. Wayang ini pada dasarnya adalah pertunjukan wayang yang mengkhususkan lakon-lakon dari ceritera Calonarang. Sebagai suatu bentuk seni perwayangan yang dipentaskan sebagai seni hiburan, wayang Calonarang masih tetap berpegang pada pola serta struktur pementasan wayang kulit tradisional Bali (Wayang parwa).

Pagelaran wayang kulit Calon arang melibatkan sekitar 12 orang pemain yang terdiri dari:

  • 1 orang dalang
  • 2 orang pembantu dalang
  • 9 orang penabuh

Diantara lakon-lakon yang biasa dibawakan dalam pementasan wayang Calonarang ini adalah:

  • Katundung Ratnamangali
  • Bahula Duta
  • Pangesengan Beringin

Kekhasan pertunjukan wayang Calonarang terletak pada tarian sisiya-nya dengan teknik permainan ngalinting dan adegan ngundang-ngundang di mana sang dalang membeberkan atau menyebutkan nama-nama mereka yang mempraktekkan pangiwa. Hingga kini wayang Calonarang masih ada di beberapa Kabupaten di Bali walaupun popularitasnya masih di bawah wayang Parwa.

WAYANG GAMBUH

Wayang Gambuh adalah salah satu jenis wayang Bali yang langka, pada dasarnya adalah pertunjukan Wayang Kulit yang melakonkan ceritera Malat, seperti wayang panji yang ada di Jawa.

Karena lakon dan pola acuan pertunjukan adalah Dramatari Gambuh, maka dalam banyak hal wayang Gambuh merupakan pementasan Gambuh melalui wayang kulit. Tokoh-tokoh yang ditampilkan ditransfer dari tokoh-tokoh Pegambuhan, demikian pula gamelan pengiring dan bentuk ucapan-ucapannya.

Konon perangkat wayang Gambuh yang kini tersimpan di Blahbatuh adalah pemberian dari raja Mengwi yang bergelar I Gusti Agung Sakti Blambangan, yang membawa wayang dari tanah Jawa (Blambangan) setelah menaklukan raja Blambangan sekitar tahun 1634. Almarhum I Ketut Rinda adalah salah satu dalang wayang Gambuh angkatan terakhir yang sebelum meninggal sempat menurunkan keahliannya kepada I Made Sidja dari (Bona) dan I Wayan Nartha (dari Sukawati).

WAYANG GUNG

Wayang Gung adalah sejenis kesenian wayang orang pada suku Banjar di Kalimantan Selatan.

WAYANG KLITIK

Wayang klitik (Jawa wayang klithik) adalah wayang yang terbuat dari kayu. Berbeda dengan wayang golek yang mirip dengan boneka, wayang klitik berbentuk pipih seperti wayang kulit.

Repertoar cerita wayang klitik juga berbeda dengan wayang kulit. Di mana repertoar cerita wayang kulit diambil dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata, repertoar cerita wayang klitik diambil dari siklus cerita Panji dan Damarwulan.

TUALEN

Tualen

Tualen (tualèn) atau Malen merupakan salah satu tokoh punakawan (bahasa Bali parěkan) dalam tradisi pewayangan di Bali. Karakternya mirip dengan Semar dalam pewayangan Jawa. Dalam tradisi pewayangan Bali, Tualen digambarkan seperti orang tua berwajah jelek, kulitnya berwarna hitam, namun di balik penampilannya tersebut, hatinya mulia, prilakunya baik, tahu sopan santun, dan senang memberi petuah bijak. Dalam tradisi pewayangan Bali umumnya, puteranya berjumlah tiga orang, yaitu: Merdah, Delem, dan Sangut. Mereka berempat (termasuk Tualen) merupakan punakawan yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Bali.

MERDAH

Merdah (mêrdah) atau Meredah (mêrêdah) merupakan salah satu tokoh punakawan (bahasa Bali: parêkan) dalam tradisi pewayangan di Bali. Menurut masyarakat Buleleng (Bali Utara), Merdah merupakan adik Tualen, namun menurut tradisi Bali Tengah dan tradisi masyarakat Bali umumnya, Merdah merupakan salah satu putera Tualen. Dalam pertunjukkan wayang, Merdah sering muncul bersama Tualen, melakukan dialog penuh lelucon namun penuh nasihat.

DELEM

Delem (lafal: dè-lêm) atau Melem (lafal: mè-lêm) merupakan salah satu tokoh punakawan (bahasa Bali: parêkan) dalam tradisi pewayangan di Bali. Delem bermata juling, lehernya gondok, dan tubuhnya pendek. Dalam pewayangan kulitnya berwarna merah tua. Delem bersifat angkuh, sombong, licik, dan suka omong besar. Di hadapan para ksatria dan para raja ia selalu tunduk, namun kepada orang yang lebih muda darinya ia bertingkah sombong. Dalam pewayangan Bali, Delem sangat terkenal dan sering muncul bersama dengan Sangut, melakukan dialog penuh lelucon namun terselip nasehat. Keduanya merupakan tokoh punakawan yang sifatnya jelek.

SANGUT

Sangut merupakan salah seorang tokoh punakawan (bahasa Bali: parêkan) dalam tradisi pewayangan di Bali. Dalam pewayangan, Sangut dilukiskan berbibir monyong dan berkulit kuning. Di antara para punakawan, tubuhnya yang paling kurus tapi perutnya besar. Dalam pertunjukkan wayang ia sering muncul bersama Delem dan melakukan dialog penuh lelucon.

WAYANG PURWA

Wayang purwa atau wayang kulit purwa. Kata purwa untuk mebedakan dengan wayang kulit lainnya. Banyak jenis wayang kulit mulai dari wayang wahyu, wayang sadat, wayang gedhog, wayang kancil, wayang pancasila dan sebagainya. Purwa berarti awal, wayang purwa diperkirakan mempunyai umur yang paling tua diantara wayang kulit lainnya. Kemungkinan mengenai berita adanya wayang kulit purwa dapat dilihat dari adanya prasasti di ababd 11 pada jaman pemerintahan Erlangga yang menyebutkan

"Hanonton ringgit manangis asekel muda hidepan, huwus wruh towin jan walulang inukir molah angucap" (Ada orang melihat wayang menangis, kagum, serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara).

Petikan diatas adalah bait 59 Kakawin Arjuna Wiwaha karya Pu Kanwa (1030) salah satu sumber tertulis tertua dan autentik tentang pertunjukan wayang kulit yang mulai dikenal di Jawa, yaitu pada masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga di Kerajaan Kediri.

Wayang purwa sendiri biasanya menggunakan ceritera Ramayana dan Mahabarata, sedangkan jika sudah merambah ke ceritera Panji biasanya disajikan dengan wayang Gedhog. Wayang kulit purwa sendiri terdiri dari beberapa gaya atau gagrak, ada gagrak Kasunanan, Mangkunegaran, Ngayogjakarta, Banyumasan, Jawatimuran, Kedu, Cirebon, dan sebagainnya.

Wayang kulit purwa terbuat dari bahan kulit kerbau, yang ditatah, diberi warna sesuai dengan kaidah pulasan wayang pedalangan, diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri dari tuding dan gapit.

Ditinjau dari bentuk bangunnya wayang kulit dapat digolongkan menjadi beberapa golongan antara lain: Wayang Kidang kencana; boneka wayang berukuran sedang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, sesuai dengan kebutuhan untuk mendalang (wayang pedalangan). Wayang Ageng; yaitu boneka wayang yang berukuran besar, terutama anggota badannya di bagian lambung dan kaki melebihi wayang biasa, wayang ini disebut wayang jujudan. Wayang kaper;yaitu wayang yang berukuran lebih kecil dari pada wayang biasa. Wayang Kateb;yaitu wayang yang ukuran kakinya terlalku panjang tidak seimbang dengan badannya.

Pada perkembangannya bentuk bangun wayang kulit ini mengalami perkembangan bahkan pergeseran dari yang tradisi menjadi kreasi baru. Pada jaman Keraton Surakarta masih berjaya dibuat wayang dalam ukuran yang sangat besar yang kemudian diberi nama Kyai Kadung, hal ini yang mungkin mengilhami para dalang khususnya Surakarta untuk membuat wayang dengan ukuran lebih besar lagi. Misalnya Alm Ki Mulyanto mangkudarsono dari Sragen Jawa tengah membuat Raksasa dengan ukuran 2 meter, dengan bahan 1 lembar kulit kerbau besar dan masih harus disambung lagi. Karya ini yang kemudian ditiru oleh Dalang Muda lainnya termasuk Ki Entus dari Tegal, Ki Purbo Asmoro Surakarta, Ki Sudirman Sragen dalan masih banyak lagi.

Ki Entus Susumono dari Tegal bahkan telah banyak membuat kreasi wayang kulit ini, mulai dari wayang planet, wayang tokoh kartun seperti superman, batman, satriya baja hitam, robot, dinosaurus, dan wayang Rai- Wong (bermuka orang), tokoh Jeos Walker Bush, Sadham Husain, sampai pada tokoh-tokoh pejabat pemerintah. Ki Entus juga menggabungkan wayang gagrak Cirebonan dengan Wayang Gagrak Surakarta (bentuk bagian atas wayang cirebon dan bawah Surakarta).

Penambahan tokoh wayang dalam pergelaran wayang kulit juga semakin marak, misalnya dengan ditambahkanya berbagai boneka wayang dari tokoh polisi, Helikopter, motor ambulan, barisan Tentara, Pemain Drum band, sampai tokoh Mbah Marijan.

CEMPURIT

Cempurit dalam istilah pedalangan diartikan sebagai tiang penyangga wayang kulit atau gapit yang lazimnya terbuat dari tanduk kerbau, bambu, kayu secang. Cempurit ini dibentuk sedemikian rupa agar wayang kulit dapat digerakan dengan mudah oleh seorang Dalang sehingga pertunjukan wayang khususnya dalam hal gerak sabet akan menarik perhatian dan lebih mendukung untuk gerak-gerak atraktif lainnya.

Menurut Ki Sumadi dari Kuwel Klaten seorang pegrajin gapit wayang yang juga seorang Dalang, kata cempurit berasal dari kata cepuri yang berarti salah satu pintu masuk ke dalam keraton.

GAPIT

Gapit dalam wayang kulit menunjuk pada bagian penyangga wayang terutama yang menempel dari kaki wayang, dan dieluk sesuai dengan badan wayang, melewati pinggang, dada, kepala hingga pada ujung rambut atau mahkota. Gapit biasanya dibuat dari tanduk kerbau.

Gapit, menurut Ki Sumadi, seorang pengrajin gapit wayang dari Kuwel, Klaten yang juga seorang dalang, dibagi dalam beberapa bagian. Bagian paling bawah berbentuk lancip yang biasanya ditancapkan pada batang semu (gedebog) pisang, dan dinamakan antub. Di bagian atas dari antub terdapat lengkeh, genuk, dan picisan yang ada di bawah kaki wayang, sedangkan bagian selanjutnya disebut cempurit. Konon ketiga bagian ini diambil dari nama pangkat para penunggu pintu keraton, yakni lurah lengkeh, lurah genuk dan lurah picis. Sesudah melewati ketiga lurah ini baru kita akan menemukan pintu utama yang dinamakan cepuri, oleh karena itu bagian gapit yang paling atas disebut cempurit.

Teater Gapit adalah sebuah teater berbahasa Jawa yang anggotanya berasal dari mahasiswa dan dosen Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta dan berkiprah penuh pada Tahun 1980-1990-an. Kala itu kampusnya masih menumpang di Sasonomulyo, sebuah bangunan milik Keraton Surakarta, dan di tepat inilah Tetater Gapit berlatih. Anggota teater ini setiap hari harus melewati lawang/pintu gapit untuk memasuki tempat latihan sehingga dinamakanlah Teater Gapit.

Teater ini mengangkat masalah-masalah masyarakat pinggiran yang hidupnya susah; juga realitas kehidupan sekeliling tembok keraton, seperti magersari, penggusuran, penembakan misterius dan lainnya. Sejumlah lakon yang sering dipentaskan adalah Leng (baca /ləŋ/, berarti "liang" atau "lubang"), Rèh, Dor, serta Dom ("Jarum"). Tidak jarang, sebelum pertunjukan dimulai tokoh sebenarnya dalam masyarakat diperkenalkan kepada penonton; misalnya pada lakon Reh, Romli seorang tukang jahit, Wongso seorang tukang tambal ban, Soleman seorang calo, Bismo seorang penjual sumbu kompor dan karet kolor yang gila akan wayang, Mbah Kawit seorang nenek tua yang ketakutan menghadapi kematian, dan sebagainya.

Sutradara dan penulis lakon yang produktif serta merangkap pimpinan teater adalah Kenthut. Penata gendhingnya Dedek Wahyudi, sedangkan penata lampunya Hengky dan Iyeh. Para pemain di antaranya Djarot, Trisno Santoso (Pelok), Wahyudiato, Pamardi, Wahyu (Inong), Budi, menik, Endang Widyaningsih dan lainnya. Pemain Teater Gapit selalu berubah karena adanya mahasiswa yang lulus dan munculnya pemain baru, kecuali untuk dosen dan karyawan tetap. Teater Gapit bersifat revivalis dan kreatif, selalu menggunakan konsep teater tradisional Jawa dalam pementasannya, sehingga sangat khas. Ia selalu menggunakan gamelan untuk musik pengiringnya. Lantunan gending dan tembang Jawa sangat dominan dalam mengiringi pementasan.

Semenjak Kenthut meninggal, teater ini lumpuh total dan sampai saat ini jarang manggung lagi, karena tidak ada yang mengambil alih pimpinan.

Dewa-Dewi wayang

Dewa-Dewi dalam dunia pewayangan merupakan Dewa-dewi yang muncul dalam mitologi agama Hindu di India, dan diadaptasi oleh budaya Jawa.

  1. Sang Hyang Tunggal
  2. Batara Bayu
  3. Batara Brahma
  4. Batara Chandra
  5. Batara Guru
  6. Batara Indra
  7. Batara Kala
  8. Batara Kamajaya
  9. Batara Narada
  10. Batara Surya
  11. Batara Wisnu
  12. Batara Yamadipati
  13. Betari Durga

Ramayana

Tokoh-tokoh Ramayana dalam budaya pewayangan Jawa diambil dan diadaptasi dari Mitologi Hindu di India.

  1. Anggada
  2. Anila
  3. Dasarata
  4. Garuda Jatayu
  5. Hanuman
  6. Indrajit
  7. Jatayu
  8. Jembawan
  9. Kosalya
  10. Kumbakarna
  11. Laksmana (Lesmana)
  12. Parasurama
  13. Prahastha
  14. Rama Wijaya
  15. Rawana
  16. Satrugna
  17. Sita
  18. Subali
  19. Sugriwa
  20. Sumitra
  21. Surpanaka (Sarpakenaka)
  22. Trikaya
  23. Trinetra
  24. Trisirah
  25. Gunawan Wibisana
  26. Wilkataksini

Mahabharata

Tokoh-tokoh Mahabharata dalam budaya pewayangan Jawa diambil dan diadaptasi dari Mitologi Hindu di India.

  1. Abimanyu
  2. Resi Abyasa
  3. Antareja
  4. Antasena
  5. Arjuna
  6. Aswatama
  7. Baladewa
  8. Bhisma
  9. Bima
  10. Burisrawa
  11. Cakil
  12. Citraksa
  13. Citraksi
  14. Damayanti
  15. Drona (Dorna)
  16. Drestadyumna
  17. Drestarastra
  18. Dropadi
  19. Durmagati
  20. Dursala (Dursilawati)
  21. Dursasana
  22. Dursilawati
  23. Duryodana (Suyodana)
  24. Ekalawya
  25. Gatotkaca
  26. Indra
  27. Janamejaya
  28. Jayadrata
  29. Karna
  30. Kretawarma
  31. Krepa
  32. Kresna
  33. Kunti
  34. Madrim
  35. Nakula
  36. Nala
  37. Pandu Dewanata
  38. Parasara
  39. Parikesit
  40. Sadewa
  41. Sangkuni
  42. Sanjaya
  43. Santanu
  44. Satyaki
  45. Satyawati
  46. Srikandi
  47. Subadra
  48. Tirtanata
  49. Udawa
  50. Utara
  51. Wesampayana
  52. Widura
  53. Wisanggeni
  54. Yudistira
  55. Yuyutsu

Punakawan

Punakawan adalah para pembantu dan pengasuh setia Pandawa. Dalam wayang kulit, punakawan ini paling sering muncul dalam goro-goro, yaitu babak pertujukan yang seringkali berisi lelucon maupun wejangan.

Versi Jawa Tengah dan Jawa Timur, wayang kulit/wayang orang

  1. Semar
  2. Gareng
  3. Petruk
  4. Bagong

Versi Banyumas, wayang kulit/wayang orang

  1. Semar
  2. Gareng
  3. Petruk
  4. Bawor

Versi Jawa Barat, wayang golek

  1. Semar
  2. Astrajingga
  3. Dawala

Versi Bali

  1. Tualen
  2. Merdah
  3. Sangut
  4. Delem

Teman para Punakawan

  1. Togog
  2. Bilung
  3. Limbuk
  4. Cangik
PUSAKA HYANG KALIMASADA

Pusaka Hyang Kalimasada adalah pusaka utama milik Semar yang dititipkan kepada Raja Yudistira. Dalam pakem wayang Jawa/Sunda, bila Raja Yudistira kehilangan pusaka ini, bencana akan menimpa para Pandawa beserta ksatria anak-anaknya. Lawan-lawan Pandawa biasanya mengincar pusaka ini sebelum menaklukan Pandawa.

Namun para wali menafsirkan kata Kalimasada sebagai Kalimat Syahadat yang termasuk didalamnya adalah Rukun Islam. Ditafsirkannya sebagai Kalimat Syahadat bertujuan untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa dengan media adat istiadat dan budaya setempat.

Namun sebelum agama Islam ada di pulau Jawa, nama ini sudah dikenal.

Links :

Akibat fosfor

Sumber : beritabumi ( Diah Tantri Dwiandani - 26 Aug 2004 07:25 )

Kelebihan nitrogen dan fosfor menyebabkan katak di Amerika Utara cacat


Penggunaan pupuk pertanian yang mencemasi perairan disekitarnya, diduga kuat sebagai penyebab tak langsung cacat yang diderita sebgaian besar katak di kolam-kolam di Amerika Utara. Demikian hasil penelitian para ekolog Universitas Washington dan Universitas Wisconsin.

Senyawa nitrogen dan fosfor dalam pupuk tersebut mencemarkan perairan tawar di sekitarnya dan ekosistem kolam. Akibatnya, siklus rantai makanan terhambat.

Ribeiroia ondatrae-parasit pada katak-diduga sebagai penyebab langsung perubahan bentuk tubuh pada katak-katak tersebut. Setelah berpindah dari inangnya, siput Ramshorn, bakteri ini menyerang bagian kaki dan lengan katak dan menyebabkannya cacat. Berdasarkan sejarah, parasit ini memang dapat menyebabkan mutasi pada katak, namun tidak dalam jumlah yang besar seperti sekarang.

Kelebihan nitrogen dan fosfor akibat penggunaan pupuk, menyebabkan nutrisi berlebih dari yang seharusnya dibutuhkan dalam suatu ekosistem. Proses ini dikenal dengan eutrofikasi. Kondisi ini menjadi tempat berkembang yang sangat baik bagi siput Ramshorn, spesies yang menjadi inang Ribeiroia ondatrae . “Kami punya bukti bahwa eutrofikasi menciptakan situasi yang mendukung bagi siput, yang mengambil keuntungan dari kandungan nitrogen dan fosfor yang tinggi,” kata Jonathan Chase, asisten profesor biologi Universitas Washington di St Louis.

Chase telah meneliti rantai makanan dan ekologi dalam ekosistem kolam. Ia juga mempelajari pentingnya peranan siput Ramshorn dalam rantai makanan tersebut. Sementara Pieter Johnson, mahasiswa doktoral bidang biologi Universitas Wisconsin, mempelajari peranan Ribeiroia yang menyebabkan katak cacat. Penelitian mereka dipublikasikan dalam Ekologi Letter edisi Juli 2004.

Terganggunya rantai makanan Menurut Johnson, eutrofikasi disebabkan oleh tingginya kandungan nitrogen dan fosfor yang berdampak pada rantai makanan. Keadaan ini dapat mengancam kelangsungan hidup katak.

Pertama, Ribeiroia dewasa hidup menumpang pada burung. Telur-telur Ribeiroia ikut keluar bersama kotoran burung yang dijatuhkan di kolam. Setelah menetas, Ribeiroia muda menginvasi siput Ramshorn dan hidup didalamnya selama 20 hari, kemudian berpindah ke kecebong. Ribeiroia hidup diantara sel-sel yang akan berkembang menjadi kaki dan tangan katak. Keberadaan parasit ini menggangggu pembentukan kaki dan tangan katak, sehingga menyebabkan katak cacat.

Selama Ribeiroia terus mendapatkan inang, yaitu siput Ramshorn, akan terus bermunculan katak cacat. Siput Ramshorn sendiri diuntungkan dengan banyaknya nitrogen dan fosfor yang tersebar di kolam. Tubuhnya tumbuh lebih cepat dari yang lainnya sehingga menjadi terlalu besar untuk diamakan oleh predatornya.

Karena nutrisi yang terkandung dalam air berlebih akibat kadar nitrogen dan fosfor yang tinggi, beberapa spesies tumbuh dengan subur. Selain siput Ramshorn, contohnya adalah ganggang dan alga. Dalam jangka waktu lama, populasinya dapat melebihi spesies lain yang ada di danau atau kolam. Karena umumnya ganggang dan alga hidup di permukaan air, jumlahnya yang besar mengahalangi sinar matahari untuk mencapai dasar kolam. Mereka juga merebut pasokan oksigen yang dibutuhkan oleh spesies lain yang ada dalam ekosistem tersebut.

Ulah manusia Johnson dan Chase menunjukkan hubungan antara fosfor, bioma siput, sejumlah spesies amphibi yang mengandung parasit, jumlah parasit yang ada dan bagaimana mereka mempengaruhi perubahan bentuk pada katak. Mereka menggabungkan data yang dimilki dan melakukan eksperimen yang dimulai musim semi 2004.

Mereka menuangkan sejumlah fosfor dan nitrogen ke dalam kolam di Wosconsin dan membandingkan perubahan yang terjadi dengan kolam yang tidak ditambahi apa-apa. Hasil penemuan mereka menambah kepada daftar kekhilafan manusia yang menyebabkan terganggunya keseimbangan lingkungan.

“Kami menunjukkan, manusia mungkin telah menciptakan lebih banyak katak cacat melalui eutrofikasi dengan serangkaian interaksi yang kompleks di dalam jaring makanan pada ekosistem kolam,” kata Chase.

Berbagai penelitian menunjukkan, penggunaan pestisida tertentu dapat menyebabkan katak menjadi hermaprodit (memiliki dua jenis kelamin). Penelitian lain menunjukkan, penipisan lapisan ozon akibat polusi industri, menyebabkan katak dan telurnya terkena pengaruh radiasi ultraviolet. Hal ini berakibat terhambatnya pertumbuhan katak, terganggunya sistem kekebalan, dan terjadinya perubahan bentuk pada tubuh katak.

Links :

Hama babi


Sumber :
InDika Kreasindo ( 27 Agustus 2007 Pukul 13:30 )

50 EKOR BABI HUTAN MATI DIBUNUH

BANGKINANG (RP) - Sejumlah 50 ekor babi hutan yang kerap mengganggu lahan pertanian masyarakat, kemarin mati bergelimpangan dalam aksi buru babi yang diikuti oleh para pemburu babi se-Sumatera dan Jawa yang datang ke Bangkinang.

Aksi buru babi yang diprakarsai oleh Persatuan Olahraga Buru Babi (Porbi) Tuah Sakti Bangkinang dilepas secara resmi oleh Bupati Kampar Drs H Burhanuddin Husin MM yang diwakili oleh Asisten II Setda Kampar Drs H Masri Maahu MSi, Ahad (26/8) di Lapangan Merdeka Bangkinang. Hadir dalam pelepasan buru babi tersebut, Ketua Porbi Tuah Sakti Bangkinang Aprizal Yahya, Ketua Porbi Provinsi Riau Saripen dan perwakilan pengurus Porbi di Sumatera dan Jawa.

Puluhan babi dibuat tak berkutik ketika ratusan ekor pamenan (istilah anjing dalam perburuan) yang sudah terlatih dalam berburu secara kompak mengejar babi hutan di kawasan belakang RSUD Bangkinang. Kesuksesan ini, membuat para pecandu olahraga buru babi semakin bersemangat menyalurkan hobi mereka.

Aprizal dalam laporannya menyampaikan bahwa buru babi yang dilaksanakan dalam rangka HUT RI sekaligus menyambut bulan suci Ramadan. Sebagian peserta berangkat menuju lokasi dari Lapangan Merdeka, namun ada juga yang langsung ke lokasi dari daerah masing-masing. ‘’Melihat antusiasnya masyarakat pecinta buru babi, kami mengharapkan kepada Pemkab Kampar agar ke depan dapat menjadi perhatian terhadap kelanjutan organisasi ini,’’ ungkapnya.

Dalam pada itu, Ketua Porbi Riau Saripen mengatakan bahwa berburu babi merupakan olahraga sekaligus penyaluran hobi yang bermanfaat dalam membantu petani membasmi hama babi hutan yang kerap mengganggu tanaman petani.

Atas dasar inilah kemudian Gubri mengeluarkan SK tentang pengendalian hama babi hutan yang timnya terdiri dari dinas/instansi terkait. Untuk itu, Saripen mendukung aspirasi Porbi Tuah Sakti Bangkinang guna mendapatkan perhatian dari pemerintah kabupaten Kampar, karena kabupaten lain juga sudah melakukannya.

Menanggapi hal itu, Asisten II Setda Kampar Drs Masri Maahu menyebutkan bahwa dari penjelasan yang diperolehnya ada beberapa kesimpulan yaitu Porbi sudah terbentuk di seluruh Indonesia, kemudian berburu babi memberikan keuntungan bagi petani untuk menyelamatkan lokasi pertanian dari hama babi hutan, serta ada unsure olah raganya juga. (amf)

Links :


Babi Hutan (Susscrofa Vittatus)


Sumber : babi_hutan.html


Babi Hutan

(Susscrofa vittatus)


Ciri-ciri

Rambut halus, berwarna hitam dan matanya kecil. Tinggi badan + 70 cm, panjang tubuh 100 – 150 cm, panjang ekor 20 – 30 cm dan berat badan 50 – 100 kg. Kepala berbentuk kerucut terpotong dan badannya silender panjang. Kaki depan biasanya lebih pendek dari pada kaki belakang. Mempunyai rambut surai berwarna hitam dari tengkuk sampai punggung. Dalam keadaan ketakutan atau bahaya, rambut-rambut surai ini berdiri tegak. Taring babi hutan jantan berkembang dengan baik dan tumbuh terus sepanjang hidupnya.

Babi hutan hidupnya berkelompok, terdiri dari kelompok keluarga yaitu babi hutan jantan, betina dan anak-anaknya, atau kelompok babi hutan muda dan kelompok babi hutan dewasa. Tiap kelompok terdiri dari 4 – 5 ekor. Dalam tiap kelompok biasanya mempunyai sifat kegotongroyongan yang kuat. Contohnya pada saat menyiapkan sarang untuk beranak, disiapkan bersama-sama.


Babi hutan biasanya membuat sarang untuk beranak dan memeliharanya. Sarang terbuat dari rumput-rumputan, alang-alang, kayu-kayu tanaman kecil atau rotan. Sarang bersifat tetap dan hanya dibuat saat akan beranak saja.

Dalam kelompok keluarga, kadang-kadang babi hutan meninggalkan kelompoknya selama beberapa waktu, tetapi kembali lagi pada saat musim kawin yaitu pada waktu babi hutan betina birahi. Hal ini dimungkinkan karena mereka mampu mengeluarkan suara yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi dengan maksud tertentu.


Babi hutan mempunyai kegeramaran berkubang dalam lumpur, untuk menjaga suhu badan atau mengusir binatang pengganggu, seperti caplak. Babi hutan tidak tahan terhadap sengatan sinar matahari, sehingga pada saat terik matahari berlindung di semak-semak dekat air.


Babi hutan betina biasanya beranak setahun sekali. Masa bunting berlangsung selama 101 – 130 hari, rata-rata 115 hari, dengan jumlah anak 2 – 12 ekor/kelahiran. Anak-anaknya disusui selama 4 – 5 bulan. Pada masa akhir masa menyusui, babi hutan betina sudah dapat kawin lagi.


Perkembangbiakan babi hutan mulai terjadi pada umur 6 – 8 tahun. Di alam, rata-rata mampu bertahan hidup 10 – 12 tahun, tetapi ada yang dapat bertahan sampai 20 tahun.


Aktifitas babi hutan dalam mencari makanan biasanya dilakukan pada sore hari dan dini hari, yaitu pukul 16.00 – 19.00 dan 04.00 – 06.00. Pada pukul 09.00 – 11.00 biasanya berkubang dalam lumpur. Jelajah harian babi hutan 5 – 16 km dan biasanya melewati jalur jalan yang tetap.

Indra yang dimiliki sangat peka dan sangat tajam mengenali bau manusia dan pandai berenang.


Cara pengendalian
a). Sanitasi tanaman dan lingkungan

Daerah/lokasi yang merupakan tempat babi bersembunyi, berkubang atau berkembang biak sebaiknya dibersihkan.


b). Pemagaran

Lahan/wilayah yang akan dilindungi dari hama babi hutan dipagar dengan kayu yang kuat. Balok kayu dipancang pada tanah dengan tinggi 1,5 meter berdiameter 8-10 cm dengan jarak + 2 meter. Kemudian pada balok tersebut dipasang balok melintang berjarak 25 – 30 cm dengan jalan dipaku pada tiang pancang. Cara ini tidak mengurangi populasi langsung, hanya mengamankan pertanaman.


c). Pengusiran

Di sekeliling pertanaman yang dilindungi, dipasang kawat yang ditopang oleh tiang pancang atau ditambatkan di pohon, kemudian dikaitkan kaleng-kaleng bekas yang diisi batu kerikil pada setiap 0,5 m. Apabila babi hutan berusaha masuk kawasan pertanaman menyebabkan bunyi yang berasal dari kaleng-kaleng tersebut, sehingga mengagetkan babi tersebut.


d). Pemanfaatan parit

Di sekeliling pertanaman dibuat parit yang lebar dan dalam sehingga babi hutan tidak mampu menyeberangi


e). Pemanfaatan pancing

Pancing ikan laut dapat dimanfaatkan untuk memancing babi hutan. Ujung tali pancing sepanjang 25-30 cm diikatkan pada bagian tengah-tengah sepotong tongkat kayu atau bambu sepanjang 15-20 cm. Tali pancing hendaknya dari bahan yang kuat. Pancing diberi umpan yang menarik bagi babi hutan dan ditempatkan di tempat yang sering dilewati/didatangi babi hutan.


f). Perburuan

Perburuan adalah cara yang paling populer. Biasanya dalam operasi perburuan dilengkapi dengan peralatan jaring lapon/jaring babi/jerat babi, tombak, parang, pemukul, alat bunyi-bunyian dan bantuan anjing pemburu. Sebaiknya satu kelompok pemburu mempunyai wilayah tertentu, misalnya satu desa.



Links :